Selasa, 10 Mei 2011

Pentingnya pendidikan bagi orang dewasa


Pendidikan bagi orang dewasa merupakan pendidikan yang difokuskan kepada orang-orang dewasa agar mereka dapat belajar kembali dan menerapkan ilmunya nanti untuk membantunya dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Banyak jenis pendidikan orang dewasa yang biasanya diadakan, seperti lokakarya, seminar, workshop dan lain-lain.
Orang dewasa pastilah berbeda cara mendidiknya dengan anak-anak. Orang dewasa itu sudah lebih mandiri atau independent, mereka sudah mampu memecahkan permasalahan mereka sendiri, dan juga sudah memiliki tanggung jawab. Biasanya orang dewasa itu lebih memfokuskan diri untuk pemecahan-pemecahan masalah.
Pendidikan bagi orang dewasa ini biasanya memiliki pengajar-pengajar yang mampu membangkitkan motivasi, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus menantang sehingga orang-orang dewasa itu tertarik untuk belajar kembali. Selain itu, fokus materi yang diberikan, hendaknya lebih bersifat aplikatif yaitu yang dapat langsung diterapkan bagi pemecahan-pemecahan masalah yang ada.
Oleh karena itu, pentinglah bagi orang dewasa untuk mau kembali untuk belajar. Karena pendidikan yang diberikan itu dapat membantu  memecahkan masalah dan dapat menambah ilmu serta wawasan. Sehingga orang dewasa di dunia yang semakin maju ini, menjadi lebih produktif serta terus berkembang dan maju hingga dapat meraih kesuksesan yang lebih lagi dalam hidupnya.

Sumber: Buku Sukadji

Selasa, 03 Mei 2011

Mengenali anak berbakat (giftedness) dan menanganinya dengan tepat


Anak giftedness atau berbakat didefinisikan sebagai anak yang memiliki IQ di atas 130 atau memiliki kemampuan yang lebih unggul di suatu bidang, seperti bermusik, berhitung, menggambar dan sebagainya. Namun, sekarang tidak hanya itu saja kriteria yang harus dimiliki oleh anak berbakat melainkan juga melibatkan kreativitas dan komitmen.
Menurut Ellen Winner, ada beberapa karakterisitik dari anak berbakat tersebut, yaitu:
·         Dewasa lebih dini
Anak yang berbakat akan dewasa lebih dini karena dia memiliki kemampuan yang melebihi teman-teman sebayanya.
·         Belajar menuruti kemauan mereka sendiri
Anak-anak yang berbakat biasanya tidak suka dengan instruksi yang diberikan oleh orang lain. Dan mereka cenderung menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri, apalagi pada masalah yang memang dia memiliki kelebihan di bidang tersebut.
·         Semangat untuk menguasai
Anak yang berbakat biasanya memiliki motivasi internal yang lebih tinggi daripada yan lainnya. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk menguasai segala sesuatu yang menurut mereka menarik.
Telah banyak studi yang dilakukan tentang anak berbakat, yang membuktikan bahwa anak berbakat tidak hanya dinilai berdasarkan IQ saja, selain itu, anak berbakat ini juga biasanya dengan bimbingan yang diberikan orang tua walaupun mereka bukan berasal dari keluarga yang kaya, juga dapat meraih kesuksesan pada saat dewasanya.
Pada saat sekarang ini, pendidikan sudah mendapatkan tempat yang terpenting di negara-negara, begitu juga perhatian terhadap pendidikan bagi anak berbakat atau giftedness. Sekarang, sudah ada kelas akselerasi yang disediakan bagi anak-anak yang memiliki kemampuan yang lebih daripada teman-teman sebayanya. Namun, tentang bagus tidaknya diadakan kelas akselerasi ini masih pro dan kontra, walaupun masih ada sekolah-sekolah yang menawarkan kelas akselerasi bagi siswa-siswanya.
Maka dari itu, sebaiknya para orang tua lebih mengenali anaknya sejak dini, apakah anaknya tergolong berbakat atau biasa saja. Hal tersebut sangat diperlukan untuk tindakan-tindakan yang akan diambil selanjutnya.  Karena salah-salah bimbingan nantinya akan merugikan anak itu dan orang tua sendiri. Bagi orang tua yang memiliki anak berbakat, seharusnya memberikan tambahan-tambahan pelajaran atau kegiatan yang bisa menguatkan atau mengembangkan kemampuan si anak di luar jam sekolahnya. Sehingga, walaupun si anak berada di kelas reguler dan bergaul dengan teman-teman yang kemampuannya biasa-biasa saja, dia tidak akan merasa bosan dan kemampuannya juga tidak terbuang sia-sia.

sumber:
Santrock, John W. (2004). Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kencana

Selasa, 26 April 2011

Perbedaan psikolog sekolah dengan psikolog pendidikan


Psikolog sekolah
  •  Psikolog sekolah berperan sebagai pembina di sekolah atau pelaksana tes untuk mengidentifikasi anak-anak yang berkebutuhan khusus.
  •   Psikolog sekolah membantu sekolah dalam menyelesaikan masalah kesehatan mental yang ada pada anak-anak murid.
  •  Bertugas sebagai interpreter masyarakat untuk memahami sekolah dan sebagai interpreter sekolah untuk memahami hal-hal yang terjadi bila seorang anak murid terlibat urusan di luar lembaga sekolah.
  •  Ikut intervensi dalam masalah konseling antara orang tua dan anak serta intervensi dalam pendidikan di dalam kelas, penaaran bagi staf-staf dan pendidikan bagi orang tua siswa.
  •   Membantu guru dalam managemen kelas atau meningkatkan keefektifan belajar mengajar di dalam kelas.
  • Kadang psikolog sekolah juga terlibat dalam pemberian terapi individual maupun kelompok pada murid-muridnya yang bermasalah dengan mentalnya, terapi ini digunakan apabila memang sudah sangat krisis keadaannya.
  •  psikolog sekolah juga terlibat dalam membentuk kebijakan atau prosedur sekolah dalam pengembangan dan evaluasi program dan pelayanan di sekolah.
  • Psikolog sekolah itu memiliki 5 tugas pokok, yaitu diagnosis, intervensi langsung, konsultasi, pendidikan serta evaluasi dan pelacakan kembali. 
  • Memberikan kebutuhan psikologi pada murid sesuai dengan tingkat perkembangan dan pendidikannya.
Psikolog pendidikan
  • Psikolog pendidikan kebanyakan bekerja di fakultas-fakultas atau lingkungan universitas , institute,  lembaga-lembaga penelitian dan lembaga pendidikan dan pelatihan (Diklat) 
  •   Psikolog pendidikan banyak terjun ke dunia penelitian dan pengembangan tes –tes yang berguna untuk dunia pendidikan.
  • Terlibat dalam perencanaan kurikulum dan prosedur mengajar sesuai dengan ilmu belajar dan juga menguji keefektifannya dengan meneliti metode-metode tersebut.
·         Sumber: Sukadji, Soetarlinah.Psikologi pendidikan dan Psikologi sekolah.2000.Jakarta:Suksessi
·